Prosesi pernikahan adat Jawa saat ini masih digunakan karena terkesan timeless. Tak hanya itu saja, dengan penggunaan budaya yang sedemikian rupa membuatnya jadi sakral dan bisa memberikan memori yang mendalam. Meskipun biaya pernikahan adat Jawa tentunya membutuhkan budget yang lumayan, tetapi, ini sebanding dengan kesan yang didapatkan.
Mulai dari penggunaan nuansa klasik yang anggun dan “mahal”, aroma bunga menenangkan, bahasa Jawa formal yang membuat tiap prosesi jadi “berkelas”, serta filosofi mendalam pada setiap langkahnya. Untuk generasi kiwari yang serba cepat dan praktis, adat Jawa bisa menjadi daya tarik tersendiri yang aesthetic, meaningful, dan magical.
Nah, untuk Anda yang ingin tahu lebih jauh mengenai prosesi pernikahan adat Jawa, pastikan untuk menyimak artikel ini sampai tandas. Sehingga, nantinya Anda bisa memastikan apakah adat Jawa layak untuk jadi konsep di pernikahan sekali seumur hidup ini!
Inilah Urutan Prosesi Pernikahan Adat Jawa yang Filosofis

Inilah susunan acara pernikahan adat Jawa yang tentunya akan membuat wedding dream Anda will come true!
1. Pasang Tarub
Hal yang pertama perlu dilakukan sebelum acara resepsi dan akad adalah pasang tarub yang dilakukan oleh keluarga. Tarub adalah semacam dekorasi tradisional yang terdiri dari janur, dedaunan, serta beberapa simbol alam yang melambangkan doa keselamatan. Nah, tarub ini akan dipasang di depan rumah si empunya hajat atau di lokasi sewa gedung pernikahan.
Tarub jadi simbol, “welcome to a sacred celebration!”. Meskipun sederhana, tetapi tarub jadi simbol bahwa rumah ini sedang bersiap menyambut sebuah momen yang besar. Secara filosofis, tarub jadi lambang harapan supaya dalam menjalani pernikahan, kedua mempelai akan rukun, adem, dan harmonis.
2. Siraman

Jika membicarakan tentang prosesi pernikahan adat Jawa, siraman memang menjadi highlight utama. Prosesi ini adalah memandikan pengantin menggunakan air kembang yang dilakukan orang tua maupun sesepuh di keluarga. Meskipun sederhana, tetapi ini prosesi yang “indah”.
Maknanya juga indah, yakni bertujuan untuk cleansing. Di mana pengantin akan membersihkan fisik dan batin sebelum melangkah ke jenjang baru. Bisa dibilang, ini adalah “prewedding emotional detox” untuk mempelai.
Air siramannya sendiri dapat dicampur dengan bunga tujuh rupa yang menjadi perlambang doa baik di berbagai sisi kehidupan. Prosesi ini tak hanya indah, tetapi juga berlangsung dengan penuh haru karena menjadi momen reflektif untuk anak maupun orang tua.
3. Adol Dawet
Setelah momen siraman, maka prosesi selanjutnya adalah adol dawet. Ini merupakan ritual simbolis yang mana ibu dari pengantin berperan sebagai penjual dawet dan ayah yang bertugas untuk memayungi.
Para tamu di lokasi akan membeli dawet menggunakan uang keping yang berasal dari tanah liat. Lagi-lagi, filosofinya mendalam, prosesi ini berisi harapan supaya rezeki dari pengantin mengalir seperti dawet sedangkan rumah tangganya akan berjalan dengan manis.
Prosesi ini cukup fun dan membuat suasana jadi cair. Banyak tamu yang terhibur dan ikut membeli dawet meskipun transaksinya bersifat simbolis.
4. Midodareni

Midodareni adalah prosesi satu malam sebelum pernikahan. Pada tradisi asalnya, midodareni ini dipercaya sebagai malam di mana pada bidadari turun ke bumi untuk memberikan aura kecantikan dan berkah untuk calon pengantin perempuan.
Namun, di era modern ini, prosesi hanya bersifat simbolis dan berfungsi sebagai introspective moment sebelum akad nikah berlangsung. Prosesi ini mengharuskan calon pengantin perempuan tidak keluar rumah hingga pernikahan. Pada proses midodareni, keluarga besar akan berkumpul, berdoa, dan makan bersama.
5. Ijab Qobul
Ini adalah prosesi utama dalam adat Jawa, ya, akad nikah. Akan tetapi, akad nikah di sini tidak hanya sekadar pembacaan lafaz dan ikrar saja. Melainkan terdapat aturan dan vibe tersendiri. Di mana pengantin akan mengenakan busana adat seperti beskap dan kebaya. Musik pengiringnya adalah gamelan halus.
Nah, setelah proses akad nikah, maka ada acara doa dan sungkeman yang menjadi tanda hormat serta permohonan restu. Momen ini menandakan bahwa hari besar pernikahan akhirnya sampai pada titik sakral.
6. Panggih
Panggih merupakan prosesi “grand meeting” dari pasangan pengantin. Ada banyak sekali prosesi simbolis di sini. Pertama, ada prosesi balangan suruh yakni kedua pasangan saling melempar daun sirih yang isinya kapur. Ini adalah simbol yang mana dua orang saling membersihkan diri dari unsur yang buruk serta menjadi jalan pembuka untuk memulai kehidupan bersama.
Kedua, ada wiji dadi atau pecah telur yang mana pengantin laki-laki akan menginjak telur, sementara pengantin perempuan akan membasuh kakinya. Arti dari prosesi ini adalah sang suami siap memikul tanggung jawab dalam keluarga. Sementara perempuan akan mendampingi dengan tulus.
Ketiga, sindur usuk wiyata yakni orang tua mempelai perempuan akan mengapit dua pengantin menggunakan kain sindur yang menjadi simbol penyatuan dan perlindungan. Selanjutnya, ada timbangan, yakni pengantin akan duduk dipangku ayah dan ibu pengantin perempuan.
Terakhir ada prosesi kacar kucur yakni pengantin laki-laki menuangkan berbagai biji-bijian dan uang logam yang menjadi simbol rezeki. Artinya, suami merupakan pemegang tanggung jawab memberi nafkah, sedangkan istri bertugas untuk menjaga dan mengelola dengan bijak.

Prosesi adat Jawa merupakan perpaduan antara nilai spiritual, etika hubungan, filosofi, hingga estetika visual yang membuat suasana jadi khidmat. Maka dari itu, konsep ini bisa dipilih oleh Anda yang menginginkan semua unsur tersebut ada dalam pernikahan.
Nah, untuk mendapatkan vibe Jawa yang sesuai, maka Anda harus memilih tenda dan dekorasi yang tepat.Bersama Tendalux Sidomulyo, Anda bisa mendapatkan tenda dan dekorasi yang cantik dan sesuai dengan prosesi adat Jawa. Silahkan booking tanggalnya dan pesan paket wedding Jogja untuk dapatkan harga terbaik!