Kembar mayang adat Jawa sering kali dianggap hanya sekedar pelengkap dekorasi di pelaminan. Di balik tampilannya yang cantik, kembar mayang memiliki makna yang sakral bagi pengantin. Banyak calon pengantin yang terlalu fokus pada keindahannya semata.

Padahal kemunculan sepasang kembar mayang memiliki arti bahwa semua manusia pasti diciptakan berpasang-pasangan. Hal ini menjadi simbol bahwa laki-laki dan perempuan dipertemukan untuk saling melengkapi.

Asal-usul Kembar Mayang

Asal usul kembar mayang, Sumber: instagram.com
Asal usul kembar mayang, Sumber: instagram.com

Bagi masyarakat Jawa, menghadirkan kembar mayang dalam pernikahan bukan sekedar memajang janur kuning yang cantik di pelaminan. Rangkaian ini sebenarnya adalah replika “pohon surga” Dewandaru dan Wijayandaru yang melambangkan keabadian cinta. 

Sayangnya, banyak pengantin modern kini hanya melihatnya sebagai properti foto, padahal ukuran dan jenis daunnya membawa doa untuk kehidupan rumah tangga kedepannya. Hal yang sering luput dari perhatian adalah kesegaran janurnya.

Jika janur layu sebelum prosesi selesai maka dipercaya sebagai firasat kurang baik bagi keharmonisan pasangan. Penggunaannya sebaiknya dihindari jika pernikahan mengusung konsep modern tanpa ritual panggih.

Tanpa prosesi serah-terima yang sakral, kembar mayang hanya akan menjadi tumpukan daun tanpa jiwa yang kehilangan maknanya. Jadi jika Anda tidak menginginkan ritual atau prosesi yang semestinya, sebaiknya tidak menggunakan kembar mayang sekaligus.

Cara Membawa Kembar Mayang

Cara membawa kembar mayang, Sumber: kompas.com
Cara membawa kembar mayang, Sumber: kompas.com

Dalam ritual panggih, kembar mayang menjadi simbol sakral pertemuan mempelai setelah ijab kabul. Uniknya, tata cara membawanya berbeda-beda. Ada yang membawa kembar mayang dengan cara diangkat setinggi dada oleh perawan sunti dan joko kumolo.

Namun ada pula daerah yang mewajibkan dua wanita menikah menggendongnya menggunakan selendang. Sedangkan menurut literatur Pengantin Yogya Putri & Paes Ageng karya Martha Tilaar, kembar mayang dibawa oleh dua pemuda yang belum menikah,

Kembar mayang akan ditempelkan pada bahu kanan dan kiri pengantin pria segera setelah ritual penyerahan sanggan berakhir. Selanjutnya, para pembawa tersebut bertugas mengawal mempelai pria menuju pelaminan untuk dipertemukan dengan istrinya.

Proses Pembuatan Kembar Mayang

Cara membuat kembar mayang, Sumber: instagram.com
Cara membuat kembar mayang, Sumber: instagram.com

Kembar mayang adat Jawa dulu dibuat oleh para sinoman dibawah pengawasan para sesepuh atau Pak Kaum. Namun saat ini kembar mayang biasanya dibuat oleh vendor saat ada calon pengantin yang ingin menggunakan prosesi pernikahan adat Jawa.

Hal tersebut bukan tanpa alasan melainkan karena generasi saat ini sudah jarang yang memahami tata cara pembuatannya secara detail atau karena sibuk bekerja sehingga tidak memiliki waktu. Jika penasaran, berikut adalah tata cara pembuatan kembar mayang.

1. Menyiapkan Bahan yang Diperlukan

Berdasarkan pakem Keraton Yogyakarta yang telah diwariskan sejak masa Sri Sultan Hamengkubuwono VII, berikut adalah susunan dekorasi yang harus ada dalam sebuah kembar mayang:

2. Menyiapkan Debog Sebagai Pondasi

Kembar mayang adat Jawa atau yang sering dikenal sebagai megar mayang dan gagar mayang pondasi utamanya adalah gedebog atau batang pohon pisang. Batang pisang dibutuhkan untuk menancapkan berbagai hiasan yang sebelumnya dirangkai.

Batang pohon pisang yang sudah dibersihkan dan dipotong rapi kemudian diletakkan di atas baki tembaga sebagai alasnya. Seluruh permukaan batang pisang kemudian dibalut dengan anyaman janur kuning (daun kelapa muda) yang dibentuk menyerupai mahkota bunga. 

Saat menancapkan tiap-tiap bagian harus dilakukan dengan hati-hati dan menghindari pengulangan. Ini penting karena tekstur batang pisang yang sudah ditusuk akan meninggalkan lubang permanen yang bisa melunakkan struktur pondasi

3. Merangkai Ornamen dari Janur

Langkah berikutnya dalam membuat kembar mayang adat Jawa adalah membentuk janur menjadi berbagai bentuk yang sarat makna. Perangkai akan membuat keris-kerisan yang melambangkan ketajaman berpikir dan mawas diri.

Ada juga pecut-pecutan sebagai simbol keuletan dan sifat pantang menyerah dalam menghadapi ujian hidup. Selain itu, dibuat pula bentuk walang-walangan yang melambangkan kelincahan dalam bertindak.

Untuk kupat luar sebagai lambang doa agar keluarga baru terbebas dari malapetaka. Setiap anyaman ini menuntut konsentrasi tinggi karena cacat pada lipatan janur dianggap dapat mengurangi kesempurnaan doa yang ingin disampaikan melalui rangkaian tersebut.

4. Penyusunan dan Sentuhan Akhir 

Setelah ornamen janur siap, berbagai jenis dedaunan khusus mulai ditancapkan secara artistik. Daun beringin diletakkan sebagai simbol perlindungan dan pengayoman. Kemudian diikuti daun dlingo sebagai penolak bala dan daun andong yang bermakna keluhuran budi. 

Bagian puncak rangkaian biasanya dihiasi dengan anyaman janur berbentuk burung sebagai simbol kebebasan dan cita-cita yang tinggi. Sebagai sentuhan akhir, bunga potro menggolo merah disematkan di sekeliling mahkota.

Tujuannya adalah untuk memberikan kontras warna sekaligus melambangkan keberanian hati yang lembut. Rangkaian ini harus dibuat identik sebanyak dua buah agar memenuhi syarat sebagai “kembar” yang sempurna.

Hal yang Sering Luput Diperhatikan

Banyak orang hanya fokus pada keindahan luarnya saja namun mengabaikan pemilihan jenis daun yang tepat untuk pembuatan kembar mayang adat Jawa. Secara tradisional, daun-daun tersebut tidak boleh sembarang diganti dengan tanaman hias biasa

Setiap helainya membawa “energi” doa yang berbeda. Selain itu, waktu pembuatan tidak boleh asal-asalan. Kembar mayang juga sebaiknya dibuat tepat pada malam midodareni saat suasana tenang agar niat baiknya “meresap” ke dalam anyaman tersebut.

Setelah prosesi usai, kembar mayang wajib dilarung ke sungai atau laut sebagai simbol membuang rintangan hidup. Hiasan sakral ini tidak boleh dibiarkan begitu saja agar kesucian doa dalam ritual pernikahan tetap terjaga dengan sempurna.

Persiapkan Nikah Menggunakan Adat Jawa Bersama Tendalux Sidomulyo

Pernikahan adat Jawa, Sumber: tokopedia.com
Pernikahan adat Jawa, Sumber: tokopedia.com

Menikah dengan adat Jawa memang sarat dengan doa dan makna dalam setiap tahapannya. Namun, kerumitan pakem seperti kembar mayang sering kali membuat calon pengantin kewalahan, terutama saat mencari paket wedding Jogja yang benar-benar paham tradisi. 

Hal yang sering luput diperhatikan adalah kesiapan logistik yang harus sejalan dengan jadwal ritual. Semua harus diatur dengan matang agar tidak ada masalah. Misalnya kondisi janur yang tidak boleh layu sebelum prosesi panggih selesai.

Jika Anda menginginkan konsep pernikahan adat Jawa tapi tidak ingin repot mempersiapkan segala ubo rampe maka bisa percayakan pada Tendalux Sidomulyo. Bersama Tendalux Sidomulyo, kami memastikan tradisi tetap terjaga tanpa Anda pusing dengan masalah teknis.

Leave a Reply